Connect with us

Ekonomi dan Bisnis

Keripik Camutrak Amucuy, Jajanan yang Sedang Hits di Purwakarta

Published

on

Foto: Endah Adepuetri Hermawan saat menunjukkan produk camutrak miliknya.

PURWAKARTA,Lampusatu.com – Sektor UMKM dinilai mampu menjadi tulang punggung bagi perekonomian masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan hadirnya berbagai kerajinan yang dihasilkan para usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang datang dari pelosok daerah yang terus membanjiri pasar e-commerce hampir setiap harinya, hal ini membuktikan hasil industri kreatif di Indonesia semakin beragam.

Kreativitas ini pun menjadi senjata utama untuk bisa meraih pasar. Salah satu UMKM yang dapat menghasilkan beragam produk berkualitas adalah produksi makanan atau camilan. Selain banyak digandrungi masyarakat produksi makanan juga cukup mudah karena dapat mengembangkan bahan baku yang ada.

Peluang bisnis itu pun ditangkap, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai bidan di sebuah rumah sakit swasta di Purwakarta dengan membuat produk jajanan yang hits di  Purwakarta yakni keripik lumer yang bikin ketagihan.

Dua produk yang dilahirkan dari tangan wanita bernama Endah Adepuetri Hermawan tersebut yakni keripik pisang dengan lumeran coklat yang diberi nama Camutrak dan keripik singkong dengan bumbu rujak yang dinamainya Amucuy.

Baca juga  Baru Dibuka, Objek Wisata Urban Farming Purwakarta Mulai Diburu Instragamble

Endah mengatakan, dipilihnya singkong dan pisang menjadi bahan baku selain melimpah juga pengolahannya tidak begitu rumit dijadikan beragam makaman atau camilan.

“Menjual singkong dan pisang yang sudah diproduksi lebih memanjikan ketimbang dijual mentahan, apalagi singkong dan pisang di Purwakarta ini cukup banyak, jadi kenapa tidak saya olah dijadikan makanan yang mampu mendatangkan sumber ekonomi,” kata wanita yang lahir pada Agustus 1994 itu, saat ditemui disela-sela kegiatanya, Rabu (26/2/2020).

Dirinya mengungkapkan, awal memulai usahanya tersebut pada 20 juni 2019 lalu, yang memproduksi hanya 30 picis saja. Dia memulai usah tersebut bersama saudaranya dengan modal awal sekitar Rp.500 ribu dan terus dipasarkan melalui media sosial (Medsos).

Dia bercerita, pertama kali mengembangkan usaha cukup kesulitan karena tidak memiliki pengalaman dalam berbisnis sebelumnya.

“Dulu kalo di ceritain emang perjuangan banget a. Dulu aku anterin kesana-kemari, papanas dan hujan-hujanan ibaratnya cuman anterin orderan 2 sampe 5 picis saja.Tapi aku jalanin ikhlas aja,” ucap wanita yang masih berstatus lanjang itu.

Baca juga  Beli Rumah Bersubsidi di Grand Subang Residence , Angsurannya Cuma Rp.800 Ribu Perbulan

Dengan karena tekad yang kuat serta dorongan dari keluarga membuat dirinya gigih dan fokus memasarkan camilan berbahan dasar singkong dan pisang tersebut. Atas kegigihan itu pula dirinya berada di titik ini.

“Namun, Alhamdulilah sekarang paling anterin pun sama temen dekat atau reseler aja dan kebanyakan sekarang sekarang yang datang ambil kerumah. Alhamdulillah terus dikembangkan dan dipasarkan, camilan yang saya produksi mendapat kepercayaan dari masyarakat,” ujarnya.

Seiring perjalanan uasahanya, dirinya terus bikin inovasi-inovasi terbaru seperti produk camutrak keripik coklat camutrak, terus varian rasa lain camutrak greenta, camutrak taro, camutrak vanilla, camutrak tiramisu, rujak amucuy, dan mie joledar.

Untuk perpicisnya, produk buatan dirinya tersebut dibanderol dengan harga Rp.15 ribu saja.

“Untuk harga jual Rp.15 ribu saja perpicisnya, namun untuk riseler beda lagi lah harganya,” ucap Endah sambil tersenyum manis.

Untuk pemesanan, kata wanita yang lulus tahun 2015 dari Akademi Kebidanan Bhakti Bangsa Bekasi itu, sistemnya pesan oreder. Estimasi produksi kurang lebih 4 sampai 5 harian jadi bisa ready dihari sabtu sama minggu.

Baca juga  Ustadz Amaludin Ceramah Idul Fitri di Atas Mobil Tempur Yon Armed 9 Pasopati Kostrad

“Produksinya seminggu sekali, kalo reseler mereka punya setiap hari nya. Tapi kalau di semua reseler mentok sold semua, pasti langsung PO di kloter selanjutnya,” jelasnya.

Di rumah produksi yang berada di wilayah Kecamatan Jatiluhur itu, membutuhkan bahan baku sebanyak 8 Kwintal dalam sekali produksi.

“Dalam sekali produksi sih bisa mencapai 4.000 picis. Untuk bahan kita usahan gunakan yang fresh,” katanya.

Sampai sekarang dirinya mempunya 8 pekerja yang membantu produksi, jadi saat ini dirinya hanya fokus pemasaran dan mengelola medsos saja, serta dirinya jadi lebih fokus menekuni profesinya sebagai bidan.

“Nah sekarang bagi kerjaannya aku pemasaran untuk di sosial media dan mengurus reseler-reseler, orderan reseler dan kalau sodara ngurusin bahan baku serta produksi aja. Untuk info jelasnya kepoin aja akun Instagramnya @camutrak.amucuy,” jelasnya.

 

Alif