Connect with us

Headline

Pendiri HMI, Prof Lafran Pane Akan Diberikan Gelar Pahlawan Nasional

Published

on

JAKARTA, Lampusatu.com,- Kabar bahagia datang dari pengurus Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI)  bagi seluruh kader HMI di seluruh Indonesia,  pasalnya bertepatan dengan peringatan hari Pahlawan Nasional tahun 2017 ini pendiri HMI Prof Lafran Pane, akan dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo.

Hal tersebut diungkapkan, Koordinator Majelis Nasional Presidium KAHMI, Mahfud MD, dalam jumpa pers seusai pertemuan dengan Jokowi di kompleks Istana Kepresidenan, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, beberapa hari lalu.

Dengan pemberian gelar Pahlawan Nasional tersebut maka Negara pun juga mengakui jasa-jasa Profesor kelahiran Desa Pangurabaan , Sipirok, Sumatera Utara itu.

“Kami sebenarnya sudah lama mengusulkan ke Presiden, sudah sejak dua tahun lalu, tentang pendiri HMI agar diangkat dan ditetapkan menjadi pahlawan nasional,” kata Mahfud kepada awak media.

Dia menjelaskan pengajuan Lafran Pane sebagai pahlawan nasional sudah diuji oleh 27 kampus di Indonesia. Lafran mendirikan HMI di Yogyakarta pada 5 Februari 1947.

“Alhamdulillah, tadi Pak Presiden (mengatakan) Profesor Lafran Pane itu memang layak menjadi pahlawan nasional. Dan insyaallah pada tanggal 9 atau 10 bulan November ini, Bapak Presiden akan menganugerahkan gelar ke Lafran Pane sebagai pahlawan nasional,” kata Mahfud.

Kehadiran pengurus KAHMI ke Istana Merdeka, Jakarta, menurut Mahfud , dimaksudkan juga untuk melaporkan rencana penyelenggaraan Musyawarah Nasional KAHMI, di Medan, Sumatra Utara, pada 17 dan 18 November mendatang.

“Kami mengundang Presiden Jokowi karena kami sangat berharap acara kami dapat dikunjungi oleh seorang Kepala Negara,” terang Mahfud.

Presiden Jokowi, lanjut Mahfud, menyatakan insya Allah akan hadir membuka Munas KAHMI  tanggal 17 November 2017 di Medan, Sumatera Utara, yang akan dihadiri oleh sekitar 1.400 utusan dari seluruh Indonesia.

Dilain tempat,  mantan Ketua Umum PB HMI era 1972-1974 Akbar Tanjung menambahkan,  pemberian gelar kepada Lafran Pane  selaku pendiri HMI dari segi proses administrasi sudah dilalui dan telah diserahkan kepada Kementrian Sosial untuk selanjutnya pemerintah akan membentuk tim Pahlawan Nasional.

Akbar juga menjelaskan, sekitar 14 nama yang akan ditetapkan oleh Tim pemberian gelar pahlawan nasional tersebut, semoga diantaranya adalah Kanda Lafran Pane.

“ Insya Allah ke 14 nama tersebut salah satunya adalah Kanda lafran Pane,” kata Akbar.

”Beliau telah banyak berbuat kepada bangsa ini, melalui pikiran-pikirannya yang relevan dan berpandangan jauh telah meciptakan masyarakat berbangsa dan bernegara. Bukan hanya itu saja beliau juga mempelopori hingga terciptanya kemerdekaan bangsa ini,” tandasnya.

Sekedar Informasi Lafran Pane adalah tokoh pemrakarsa pendiri Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam atau disingkat HMI pada tahun 05 Februari 1947.

HMI pada saat itu didirikan dengan tujuan mempertahankan republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam. HMI merupakan organisasi yang mencetuskan para tokoh bangsa Indonesia seperti Nurcholish Madjid, Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Hamdan Zoelva, Anies Baswedan dan masih banyak lagi.

Pada 5 Pebruari yang kemudian dikenal sebagai hari lahir atau Milad HMI itu ditetapkanlah tujuan HMI yaitu,1).Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat Rakyat Indonesia, 2).menegakkan dan mengembangkan ajaran Agama Islam.

Tentulah upaya yang dilakukan Lafran Pane itu merupakan sebuah karya besar yang kemudian bertahun tahun sesudahnya lahirlah kader kader bangsa yang digodok dan dilatih di HMI organisasi yang didirikan Lafran Pane.

Usaha Lafran melahirkan HMI terasa lebih bermakna mengingat suasana Jogyakarta waktu itu diselimuti pertentangan internal diantara pemimpin pemimpin republik .

Partai Sosialis Indonesia mulai ingin mendominasi perpolitikan nasional yang antara lain dengan mendirikan Persyerikatan Mahasiswa Jogyakarta. Partai Sosialis Indonesia kemudian mulai mendominasi Persyerikatan ini.Sikap yang demikian ditolak oleh berbagai elemen mahasiswa termasuk mahasiswa Islam, mahasiswa Katolik dan juga mahasiswa Kristen.

Kemudian suasana politik di Jogya terasa semakin panas karena mulai terlihat adanya keinginan Belanda untuk menguasai Kota Pusat Perjuangan itu.Dan seperti diketahui,5 bulan sesudah lahirnya HMI ,Belanda melancarkan serangan ke Jogya yang mereka sebut Agresi Militer Pertama , 21Juli 1947. (Rlz/R1/16)***

Ket.Gambar : Pendiri HMI Prof Lafran Pane

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *