Connect with us

Headline

Workshop Komunitas Hong Bolang, Disambut Antusias Mahasiswa Guanxy Normal University Guilin China

Published

on

SUBANG, Lampusatu.com,- Puluhan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Guanxy Normal University Guilin China mengikuti “Workshop Indonesia Tradisional Folk Game” di International Building 215.

Mereka antusias mengikuti setiap kegiatan yang digelar Komunitas Hong Bolang (sanggar Budaya Bolang) dan Hong Bandung, didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama tiga hari (Rabu – Kamis 20 – 21 Desember dan Sabtu 23 Desember 2017).

Para mahasiswa diajarkan beberapa permainan nusantara, sekaligus membuat pula beragam mainan tradisional menggunakan bahan janur. Selain itu ditampilkan pula beberapa tarian tradisional khas Jawa Barat, Jaipongan.

Hari pertama (Rabu 20 Desember 2017) diawali pengenalan tim hong bersama pengurus perhimpunan mahasiswa Indonesia, dan perwakilan Guanxy Normal University. Hadir perwakilan dari Kemendikbud Dewi Indrawati, Binsar, dan Budi Sudarsono.

Di acara itu, pihak Universitas mengenalkan sejarah dan perkembangan kampus, di antaranya tentang beasiswa dan banyak yang berasal dari Indonesia, tahun ini lebih dari 120 orang. Sedangkan dari tim Hong selain pengenalan juga ditampilkan tari jaipong.

Setelah itu rombongan meninjau ruangan Pusat Kebudayaan Indonesia, Vietnam, dan Thailand. Kemudian melihat ruangan pusat kebudayaan Asian. “Di Kampus kami cuma tiga negara yang punya ruangan khusus buat pusat kebudayaan, Indonesia, Vietnam dan Thailand,” ujar Gani Ketua Pelaksana Workshop.

Hari kedua, Kamis (21/12/2017) mulai berlangsung Workshop melibatkan para mahasiswa Indonesia. Acara dibuka penampilan rampak kendang oleh tim Hong Bolang dan Bandung.

Antraksi yang ditampilkan cukup membuat antusias peserta workshop tergugah. Kemudian dilanjutkan permainan salam sabrang dipandu langsung Pendiri Komunitas Hong Bolang dan Hong Bandung, Zaini Alif, sambil memaparkan makna dan inti permainannya, seperti membangun kerjasama kelompok dan melatih otak kiri otak kanan.

Semua mahasiswa yang hadir diajak mengikuti tiap tahap permainan, mulai level I (paling sederhana) terus naik kesulitannya hingga level VI. Suasana pun menjadi semakin seru, interaksi tiap peserta menjadi lebih erat, sesuai tuntutan dan aturan permainan.

Apalagi disesi itu, kelompok yang paling kompak memainkan level III mendapat hadiah seperti kolecer hingga uang. Permainan ditutup pada level VI, melibatkan semua peserta menjadi satu kesatuan.  Mereka membentuk lingkaran tak terputus, sambil memainan gerak salam sabrang.

Setelah itu, hari ketiga (Sabtu 23 Desember 2017) acara dimeriahkan penampilan tari jaipong, yaitu Jaipongan Cikeruhan dan mojang priangan. Penampilannya mendapat sambutan antusias peserta.

Seusai tarian, peserta workshop diajarkan membuat mainan menggunakan bahan baku dari janur.

“Kalau di Jepang punya origami, seni melipat kertas. Kita di Indonesia punya seni hampir sama, membuat mainan cuma bedanya yang dilipat bahannya menggunakan Janur,” kata Zaini.

Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, di pandu instruktur dari tim Hong mereka langsung praktek membuat beragam bentuk mainan dari bahan janur, seperti kekerisan, candi-candian dan burung-burungan.
Selain itu peserta dikenalkan pula dengan permainan sarung, seperti membuat babalonan dan boneka dari Sarung. Akhirnya semua peserta bersama-sama ikut menari kreasi gerak nusantara, diiringi lagu maumere.

Ketua Panitia Gani mengatakan, terima kasih kepada Tim Hong bisa hadir dan menggelar workshop, tentunya berkat dukungan Kementerian sehingga acara bisa berlangsung sesuai rencana.

“Lewat workshop ini kami bisa lebih mengenal beragam seni budaya nusantara, terutama keanekaragaman permainan tradisional, sehingga menambah wawasan tentang kekayaan dan keanekaragaman negeri kami. Selain itu Workshop ini juga bisa menjadi gambaran buat kami menghadapi festival budaya Indonesia tahun depan,” ujarnya.

Zaini mengatakan hingga kini Hong telah mengumpulkan lebih dari 2.600 permainan di Nusantara. Ini menjadikan salah satu kekayaan Indonesia, jumlahnya paling banyak dibanding negara lain. Misalnya, China dan Korea, mereka cuma memiliki ratusan permainan tradisional.

“Negara lain jadi kaget sekaligus kagum juga saat tahu Indonesia punya ribuan permainan tradisional. Kami mengajak mahasiswa disini bila sudah selesai, bisa kembali dan berpartisipasi membangun Indonesia,” ujarnya.

Perwakilan Direktorat Kepercaan dan Tradisi Kemendikbud, Dewi didampingi Kasi Diplomasi budaya Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Binsar, mengungkapkan kehadirannya ingin mengetahui seperti apa mahasiswa Indonesia menjaga kebudayaan sendiri. Walaupun mereka lama berada di luar negeri diharapkan tak lupa, dan tetap ikut menjaga dan melestarikan budaya negeri sendiri.

“Kami datang kesini bersama Komunitas Hong, tujuannya sama-sama membuka wawasan. Sebab kebudayaan banyak unsur, termasuk di antaranya permainan tradisional,” ujarnya.

Dia mengingatkan para mahasiswa harus bisa mengenalkan dan mempromosikan seni budaya dan pariwisata Indonesia. Selain itu paling penting harus bisa menjaga karakter dan menumbuhkan jati diri bangsa. Sebab Indonesia mempunyai 700 suku bangsa, dan 800 bahasa.

“Kami tak bisa jalan sendiri, ujung tombak pelestarian budaya ini ada di generasi muda. Jadi harus bisa menjaga dimanapun berada. Lebih baik lagi bila mampu menyebarkan lebih luas lagi. Jaga persatuan dan kebudayaan,” pungkasnya. (Rlz/Adji/R1/16)***

Ket.Gambar : Saat komunitas hong bolang dan hong bandung mengajarkan puluhan mahasiswa Indonesia yang kuliah di Guanxy Normal University Guilin China cara membuat ketupat dari daun kelapa di acara “Workshop Indonesia Tradisional Folk Game” di International Building 215.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hot News

Terbaru