Connect with us

Opini

Hikmah Anak Belajar di Rumah, Lockdown Covid-19

Published

on

Foto : Feri Rustandi, S.Pd, MM (Ketua JSIT Daerah Subang -Jaringan Sekolah Terpadu-).

Di beberapa daerah yang sudah terdeteksi rawan penyebaran Coronavirus Diseasaes Covid-19, para kepala daerah segera mengeluarkan intruksi yang salah satu isinya meliburkan sekolah dan mengganti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) jarak jauh alias belajar di rumah.

Misalnya di Kabupaten Subang, keluar edaran Bupati Subang No KS/01/635/Kesra Tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Resiko Penularan Inveksi Covid-19 di Kabupaten Subang yang salah satu isinya adalah meliburkan sekolah yang ada di subang.

Tentu ini menjadi tantangan baru dan langka selama ini, apalagi menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan status masa tanggap keadaan darurat akibat virus corona (Covid-19) diperpanjang sampai 29 Mei 2020, yang jelas peserta didik sekarang belajar dengan tradisi baru yaitu belajar dari rumah, strategi guru dalam memberikan tugas dan pengganti mengajar beragam, ada yang mengoptimalkan aplikasi googleclassroom, zoom, atau media sosial whatsapp untuk hanya sekedar memastikan murid-muridnya belajar di rumah.

Perusahaan startup Ruangguru mengambil peran sosialnya melihat kejadian ini dengan menggratiskan pembayaran agar peserta didik bisa mengakses aplikasi ini. Salah satu guru SD di Sukabumi, sebut saja Bu Febi, menyampaikan curahan hatinya, bahwa untuk menerima tugas dari murid-muridnya sampai-sampai handphone nya nge-hang gara-gara terlalu banyak tugas masuk dan storage HP terbatas, ditambah lagi harus memeriksa tugas yang ternyata lebih menantang di banding pembelajaran offline.

Baca juga  OPINI : Perbedaan Yang Mempersatukan

Disisi lain segelintir siswa ada yang mengeluh bahwa tugas yang diberikan gurunya sangat terlalu banyak sehingga waktu untuk bercengkrama dengan keluarga jadi terbatas karena hampir seharian berdiam diri di kamar untuk mengerjakan tugas dari gurunya.

Nah selanjutnya tidak kalah cerewetnya para orang tua juga ada yag mengeluh bahwa dengan adanya tugas dari gurunya untuk di kerjakan di rumah, disinilah ternyata tugas monitoring anak agar bisa belajar berpindah pada orang tuanya, bahkan tidak sedikit para orang tua bukan lagi hanya membantu tapi mengerjakan tugas anak-anaknya. Disisi lain tidak sedikit juga menyambut baik tradisi belajar daring di rumah ini membantu anak tetap belajar.

Keluarga adalah pendidikan yang pertama
dengan adanya musibah covid-19 yang mengharuskan anak belajar di rumah, terlepas banyak pihak yang mengeluh dengan tidak terbiasanya proses belajar mengajar yang selama ini terjadi, disisi lain menyadarkan kita bahwa proses pendidikan yang pertama dan utama adalah ada di keluarga, sebagaimana ada sebuah ungkapan bijak menegaskan, “Al-ummu madrasatun ūla.” Maknanya, ibu adalah sekolah(an) yang pertama. Dari sejak di rumah lah seorang anak ditempa, dididik, dibina, diarahkan, di perhatikan dengan belaian kasih sayang, semua itu adalah bentuk perhatian dan tanggung jawab orang tua.

Baca juga  Peran Jurnalistik Dalam Memajukan Bangsa

Ditegaskan lagi dalam sebuah Hadist , Nabi Muhammad SAW bersabda
“Setiap bayi yang lahir adalah fitrah maka kedua orang tuanya lah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani ataupun Majusi (HR. Bukhari).

Kalau lah ada orang tua yang mengeluh dan keteteran dalam membantu dan memastikan anak-anaknya mengerjakan tugas dan belajar di rumah, tentu mungkin itu hal wajar karena tidak terbiasa, tapi jangan sampai itu sebagai isyarat bahwa selama ini bahwa orang tua terebut yang selama ini jarang memperhatikan dan mempedulikan anak-anaknya belajar di rumah, seakan-akan belajar hanya cukup di sekolah menajdi tugas guru, sedangkan rumah hanya tempat untuk istirahat, padahal sejatinya yang menjadi pertanyaan dan permasalahan apakah rumah dan lingkungan tempat tinggal sudah layak menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anak.

Baca juga  OPINI : Memilih Caleg Ideal "One Man One Vote"

Tidak sedikit anak di sekolah bermasalah yang diakibatkan di rumahnya ada masalah. Keluarga diharapkan mampu mengkondisikan kehidupan rumah sebagai institusi pendidikan sehingga terdapat proses saling interaksi antara anggota keluarga, proses pengasuhan, bimbingan dan keteladanan nyata menjadi modal besar dalam mengontrol pola pergaulan anak.

Keluarga merupakan elemen pokok pembangunan entitas pendidikan, menciptakan naturalisasi sosial, membentu kepribadian seutuhnya, serta memberikan pembiasaa-pembiasaan kehidupan. Apa yang dilakukan oleh orang tuanya maka dengan mudah anak akan belajar mencontoh sehingga para orang tua harus hati-hati dalam melakukan kegiatan dan aktivitas terlebih di hadapan anak. Dari keluarga inilah segala sesuatu tentang pendidikan bermula, apabila salah dalam pendidikan awalnya, peluang untuk ternjadi berbagai distorsi dan nasib masa depan semakin tinggi.

Mari kita sikapi dengan adanya musibah ini untuk dijadikan kesempatan untuk lebih dekat dengan anak, lebih peduli, dan terlebih memberikan nilai-nilai lain tentang arti kesabaran, pekerja keras, perjuangan dan tanggung jawab.

 

Wallohualam Bisshowab

Penulis oleh : Feri Rustandi, S.Pd, MM
(Ketua JSIT Daerah Subang -Jaringan Sekolah Terpadu-).