Connect with us

Opini

OPINI : Makna Kemerdekaan di Tahun Politik

Published

on

Foto : Feri Rustandi (Pemerhati masalah sosial, politik dan pendidikan)

Tak terasa kini 73 Tahun Indonesia merdeka, dibuktikan dengan di deklarasikannya teks proklamasi oleh proklamator tercinta pada 17 agustus 1945, dan dunia mengakui serta mendukung kemerdekaan Indonesia.

Tradisi masyarakat indonesia dalam rangka memeriahkan HUT RI menjadi sebuah budaya sebagai bentuk penghargaan kepada para pendiri bangsa dan semangat masyarakat indonesia dalam mengisi amanat kemerdekaan.

Aneka perlombaan pun di gelar di belahan pertiwi, dari mulai balap karung, panjat pinang sampai lomba gigit koin seakan tak pernah absen setiap tahunnya. Sekalipun ciri khas dalam rangka memeriahkan 17 agustusan ini selalu identik sama, namun ada hal yang berbeda pada 17 agustus tahun ini, sebagaimana diketahui pada tahun 2018-2019 ini adalah merupakan tahun politik yang sudah mulai ramai di di perbincangkan banyak orang, untuk memilih pemimpin negara ini setiap 5 tahun sekali.

Dengan sudah munculnya secara resmi dua pasangan kandidat calon presiden dan wakil presiden yaitu Joko Widodo Maruf Amin dengan Prabowo Subiyanto Sandiaga Salahudin Uno, kita ketahui bersama proses kemunculan kandidat tersebut penuh kejutan dan sangat dramatis sebagai bentuk dinamika politik indonesia, terutama pencarian calon wakil presiden yang dil luar prediksi.

Baca juga  Apa Itu Corona Virus (COVID-19) dan Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Dengan adanya dua kandidat ini menyeret publik terhadap dua kubu pilihan, yang satu karena incumbent sehingga memberi makna ingin menjabat 2 periode dengan sebutan hastage 2019 tetap jokowi dan kubu satu lagi adalah penantang yang menginginkan 2019 ganti presiden.

Terlepas darimana dan seperti apa latar belakang para kandidat, mereka adalah anak-anak bangsa yang memiliki hak untuk menjadi pemimpin negara ini.

Dalam momentum mengisi kemerdekaan ini semua kandidat dan pendukung harus memiliki ke fahaman yang sama tujuan memilih pemimpin baru yaitu dalam rangka mempertahankan, mengisi dan melanjutkan kemerdekan bangsa indonesia, semua harus sepakat bahwa hidup merdeka adalah harga mati dan tidak boleh terulang lagi hidup dalam keadaan terjajah, tetapi apakah secara makna hakiki kemerdekaan sudah tercapai dan di bilang sepenuhnya merdeka ?

Tentu ini merupakan pertanyaan yang tidak bisa di jawab dengan jawaban yang 100 % benar, nyata nya kita belum sepenuhnya merdeka dalam hal-hal memerdekakan hak-hak hidup banyak seperti belum merdeka nya kita dalam ber-ekonomi, dalam masalah hukum dan dalam bidang pendidikan, kita masih tergantung bahkan hanya mampu meniru produk-produk dari negara lain belum bisa mandiri menciptkan dan membuat produk sendiri dengan baik, jumlahnya secara umum masih di bilang sedikit.

Baca juga  OPINI : Perbedaan Yang Mempersatukan

Kurs rupiah terhadap dollar tembus ke angka Rp 14.605, produk impor merajalela dan ledakan tenaga asing dari luar negeri membanjiri berbagai lapangan pekerja di kala angkatan kerja pribumi banyak yang menganggur, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran terbuka sebesar 6,87 juta jiwa sedikit menurun tapi tidak signifikan, artinya masih banyak masyarakat indonesia yang menjadi tamu di rumahnya sendiri.

Permasalahan tersebut hanyalah salah satu dari sederet masalah bangsa yang ada, sehingga siapapun kandidat capres-cawapres kedepan harus mampu menjawab permasalahan tersebut dan mencari solusi terbaik, menempatkan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi/golongan.

Semangat perbaikan harus menjadi jargon bersama sehingga yang diinginkan pertarungan pada pilpres kali harus lebih mengedepankan adu ide dan gagasan, menampilkan politik yang santun dan damai, tidak gaduh dengan bersembunyi dan memakai dalil-dalil politik identitas, tidak boleh masyarakat yang terpecah dan menjadi korban atas dinamika politik yang terjadi, kedua kandidat harus menyatakan sikap untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya, setuju tidak ada black campaign, upaya memecah belah masyarakat dan praktik-praktik yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan.

Baca juga  Mencari Makanan Halal di Negeri Muslim

Jangan sampai kemerdekaan yang telah susah payah diperjuangkan oleh pendiri bangsa di rusak hanya untuk kepentingan politik belaka. Politik yang di bawa harus memberikan pencerdasan bagi masyarakat sehingga masyarakat bisa menentukan pilihannya berdasarkan ke fahaman dan ketertarikan atas dasar ide dan gagasan yang di tawarkan bukan karena rayuan dan tipuan belaka sehingga yang ada pada akirnya kekecewaan dan penyesalan yang di dapatkan.

Dengan semangat kemerdekaan di tahun politik ini mari kita utamakan persatuan dan kesatuan bangsa, jangan sampai mengecewakan para pendiri bangsa yang sudah berkorban banyak dalam mengusung kemerdekaan negara kesatuan republik indonesia, jangan lengah lagi dengan politik devide et impera yang di gagas oleh snouck hurgronje, cukuplah itu jadi pelajaran bangsa kita.

Bung Hatta pernah berkata “indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita, hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani dan rohani.

Ini menandakan bahwa justru tugas besar kita lah sebagai generasi penerus dan penikmat dalam mengisi kemerdekaan indonesia.

 

Penulis  : Feri Rustandi
(Pemerhati masalah sosial, politik dan pendidikan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *