Connect with us

Opini

Mang Ayi Seniman Pantun Sunda dari Kampungku 

Published

on

Foto : Mang Ayi Seniman Pantun Buhun Asal Subang

Sayup-sayup suara terdengar indah nan merdu seakan mengantarkan pikiran untuk ikut berimajinasi mengikuti alunan nada yang didendangkan. Terlihat sosok pria tua memakai baju pangsi hitam serta lipatan iket berwarna hitam di kepalanya, menunjukkan kesan elok akan simbol budaya Sunda.

Petikan kecapi seolah-olah menunjukkan betapa lihainya jari jemari pria tua itu memetik kawat demi kawat, memainkan dan menyusun nada demi nada hingga terdengar hegar laras yang dimainkannya.

Begitulah tampilan sosok bersahaja, mang Ayi saat tampil sebagai juru pantun. Jauh dari hegemoni dan hiruk pikuk kota Subang, tepatnya di Kampung Dukuh Desa Sadawarna  Kecamatan Cibogo Kabupaten Subang, di sanalah mang Ayi tinggal.

Hidup bersama putra-putranya, membangun keluarga kecil. Usia tua tidak menghalangi mang Ayi untuk tetap turut melestarikan kesenian Sunda. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai seniman, pemaen tarompet subang dan juru pantun.

Sebagai juru pantun yang malang melintang dari panggung satu ke panggung yang lain, mang Ayi tak lelah membawakan cerita keelokan dan kearifan budaya Sunda, keteladanan Prabu Siliwangi, keanggunan sebagai seorang ibu bernama Nyi Mas Subang Larang, kecantikan prilaku Dyah Pitaloka (Putri Citra Resmi) dan kegigihannya dalam, mempertahankan harkat dan martabat perempuan Sunda, serta keagungan Nyi Pohaci dalam simbol-simbol Padi. Itulah beberapa judul-judul pantun yang selalu mang Ayi tampilkan.

Baca juga  Perpustakaan dan Budaya Literasi

Sebelum menekuni pantun buhun, mang Ayi kecil adalah seorang anak yang sangat suka memainkan tarompet umumnya anak-anak penggembala disekitarnya.

Darah seninya mengalir dari neneknya, di mana ibunya dulu seorang penari tayub, di masa kecil itu pula, mang Ayi mulai mengenal pantun. Dahulu, ia sering mendengarkan tutur bahasa juru pantun Bapak Sukaman sekitar tahun 1980.

Mulai saat itu, Ayi kecil jatuh hati tergerak ingin menguasai kesenian pantun. Setelah tumbuh besar, mang Ayi menjadi pemain tarompet sisingaan sampai Tahun 1986. Ia pergi ke Bandung, tepatnya ke Ujung Berung untuk melatih sisingaan.

Selama lima tahun di Bandung itulah mang Ayi mengenal KOKAR (sekarang SMKN 10 Bandung), dan ASTI (sekarang ISBI). Terbersit dalam hatinya ingin belajar di sana, namun apa daya oleh karena situasi ekonomi yang serba kurang menguntungkan, ia harus merelakan keinginannya tersebut hanya sebagai angan-angan saja.

Namun demikian, buah dari keteguhan hati dan disertai do‘a agar di kemudian hari bisa tampil di lembaga pendidikan seni tersebut, membawanya kenal dan membaur dengan mahasiswa-mahasiswa ASTI pada Tahun 1995. mang Ayi berkenalan dengan Endul, ia  kemudian diajak main tarompet dalam garapan rampak kendang sampai beberapa tahun lamanya hingga ia dijuluki Ayi Tarompet.

Baca juga  Ruhimat Kagum Hasil Karya  Seniman Subang dan Bandung Barat

Tahun 2006 mang Ayi bertemu lagi dengan kesenian pantun sunda buhun yang kala itu juru pantunnya bapak Angdidi. Di sini mang Ayi hanya sebagai juru dengar selama dua tahun. Dari bapak Angdidi inilah mang Ayi hapal bahasa-bahasa pantun.

Namun Tahun 2008 mang Ayi kembali lagi ke Subang. Sekembalinya ke subang, mang Ayi tidak langsung menjadi juru pantun, ia kembali lagi sebagai seniman tarompet Sisingaan.

Dikala Sisingaan di Subang terjadi dominasi transformasi adanya musik-musik dangdut ke dalam pertunjukannya, dan mulai menggeser estetika asli Sisingaan, maka hal ini secara tidak langsung mengurangi aktivitas seni mang Ayi dalam Sisingaan.

Oleh sebab itu, ia mempunyai lebih banyak waktu senggang. Mang Ayi mengisi waktu senggangnya ini dengan mengasah kemampuan mantunnya pada keluarga bapak Sutaman.

Ia berguru di sana, dan mendapatkan pelajaran tentang struktur kalimat, mengenal bahasa Sunda buhun, rajah buhun, serta cara memainkan kacapi pantun buhun.

Masih di tahun yang sama, dengan berbekal pengalaman yang hanya sedikit, mang Ayi merentangkan sayap sebagai juru/dalang pantun dengan dibantu oleh Kang Gigi Priadji dan Iman Jimbot.

Baca juga  Bupati Subang Terpilih  Diminta Seniman Serius Bangun Gedung Kesenian

Seiring berjalannya waktu, mang Ayi terus mendapatkan tempat sebagai juru pantun. Dengan keterampilannya yang semakin profesional, ia pernah tampil dalam salah satu acara penerbitan sebuah buku di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sebuah universitas besar pencetak guru-guru yang berada di wilayah Bandung Utara.

Kini, mang Ayi semakin dikenal dan sangat begitu mudah diterima di kalangan kawula muda maupun tua melalui inovasi pantun rajah ciptaan mang Ayi sendiri yang tanpa meninggalkan pakemnya.

Hal ini membawanya untuk pentas di berbagai event penting di Subang, maupun kota-kota lainnya termasuk di perguruan tinggi ternama (UPI, UNPAD, ISBI), bahkan di luar negeri seperti: Singapura dan Australia.

Atas prestasinya, mang Ayi mendapatkan penghargaan Gubernur Jawa Barat di bidang seni Sunda sebagai juru/dalang Pantun. Sebagai juru pantun, mang Ayi berpesan kepada kawula muda agar sok rawat, ruwat, rumat, entong sampe budaya urang diculkeun, ari budaya dengeun dimumule.

 

Penulis :  Bagja Pitriyana (Alumni UPI Bandung Jurusan pendidikan seni musik 2017) dan saat ini aktif mengajar di Yayasan Bina bakti matius Kota Bandung dan di communitas perkusi di Kota Bandung (USBP).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *