OPINI : Islam Menyelesaikan Permasalahan Buruh Perempuan

Pengesahan Rancangan Undang-undang Cipta Kerja oleh DPR, menimbulkan reaksi luarbiasa. Baik masyarakat secara umum maupun dikalangan buruh dan mahasiswa. Sontak demonstrasi penolakanpun terjadi hampir diseluruh wilayah Indonesia.

Selain dinilai merugikan para buruh secara umum, Undang-undang ini juga merugikan para buruh perempuan. Untuk itu para buruh perempuan pun turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya.

Seperti salah seorang buruh perempuan, Ratna Juita Wati dari serikat Gabungan Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (Gobsi) yang di wawancarai oleh jurnalis SuaraJabar.id di Balai Kota Bandung, Selasa (6/10/2020) yang mengatakan alasan dirinya ikut turun adalah karena keprihatinan terhadap disahkannya UU Omnibus Law Ciptaker. Hal itu dinilai banyak merugikan buruh perempuan.Saya prihatin, banyak pasal-pasal yang merugikan perempuan, cuti haid, cuti melahirkan dihilangkan, dan masih banyak hal yang merugikan perempuan,” katanya.

“Berat untuk kaum perempuan, kalau kita lahiran minimal 40 hari dan 3 bulan cuti lahiran dihapuskan,” tambahnya.

Sebagai buruh perempuan, kebijakan pada Omnibus Law banyak menghapuskan hak buruh perempuan. “Ratna” hanyalah salah satu dari sebagian besar buruh perempuan yang mengikuti aksi demo pada hari itu yang berharap pemerintah bisa mengambil sikap untuk menghapuskan Undang-undang ini.

Baca juga  Memahami Islam Secara Benar

Permasalahan buruh perempuan memang tak kunjung mendapat solusi. Sebelum Undang-undang Cipta kerja ini disahkanpun, problematika buruh perempuan sudah kompleks dan dilematik. Mulai dari upah rendah, kekerasan berbasis gender, sulit mendapatkan hak maternity hingga terkendala dalam mendapatkan hak jaminan sosial.

Alasan para perempuan memilih menjadi buruh salah satunya adalah untuk membantu perekonomian keluarga. Selain itu, pengarusan Women Empowering juga mendorong perempuan untuk bekerja sebagai solusi ekonomi. Bahkan jabatan ketua DPR-RI yang dipegang perempuan dianggap sebuah prestasi dan kebanggaan bagi kaum perempuan.

Namun miris, ternyata semua itu tak membawa angin segar perubahan kepada perempuan justru malah semakin merugikan mereka. Realitasnya, aspirasi buruh perempuan pun tak didengar. Sistem demokrasi-kapitalisme yang menjanjikan solusi atas setiap permasalahan perempuan, rupanya hanya omong kosong belaka.

Selain itu, akibat dari sistem buatan manusia inipun perempuan dipaksa keluar dari koridor fitrahnya yang telah diciptakan secara unik oleh Allah subhanahuwata’ala. Paradigma bahwa perempuan harus mandiri secara ekonomi mengakibatkan kaum perempuan terjebak dalam profesi-profesi yang kurang strategis dan tidak mendukung pada perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga suaminya.

Lalu bagaimana Islam mencermati permaslahan ini?
Islam memuliakan perempuan dan memberikan peran dalam kehidupan, baik sebagai manusia sebagaimana halnya laki-laki, maupun sebagai manusia berjenis perempuan.

Baca juga  Refleksi Harkitnas Bagi Generasi Muda

Sebagai manusia, perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama, yang paling takwalah yang paling mulia di hadapan Allah SWT. Sementara sebagai jenis perempuan, Islam memberikan peran sesuai dengan kodratnya, yaitu sebagai istri, ibu generasi dan pengatur rumah.

Syaidina Ali ra. menuturkan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda:
“Perempuan adalah saudara kandung laki-laki. Tidak memuliakan kaum wanita kecuali orang mulia dan tidak merendahkan mereka kecuali orang hina.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Asakir).

Berdasarkan hadits diatas, jelas bahwa Islam memuliakan kaum perempuan. Kendati demikian, Islam tidak melarang kaum perempuan untuk bekerja dan berkiprah di masyarakat selama tidak ada hukum syara yang dilanggar serta peran utama yang telah ditetapkan syara tidak terganggu.

Itulah mengapa syariat menetapkan bahwa kaum laki-laki yang berkewajiban mencari nafkah. Hal ini sebagai bentuk penjagaan Allah, agar terpenuhinya kebutuhan dasar oleh walinya. Perempuan tidak diwajibkan bekerja, tidak dituntut membantu ekonomi keluarga apapun kondisinya. Perempuan dapat menikmati perannya sebagai ibu dan pengurus rumah tangga, mewujudkan baiti jannati, tempat tinggal layaknya di surga penuh ketentraman.

Baca juga  Apa Itu Corona Virus (COVID-19) dan Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Penjagaan Islam terhadap kaum perempuan tentu saja harus dalam ranah pengurusan negara terhadap rakyatnya. Negara ini dalam khasanah fikih Islam (fikih siyasi) dikenal dengan istilah Khilafah. Inilah Khilafah yang agung, sebuah sistem pemerintahan yang mestinya diidamkan seluruh perempuan di seluruh dunia.

Khilafah adalah satu-satunya harapan bagi kaum perempuan untuk mendapatkan kesejahterakan, karena sistem kapitalis demokrasi terbukti tidak mampu mewujudkannya. Sebagaimana yang tertulis dalam Mu’jam Musthalahat al-’Ulum as-Syar’iyyah (hlm. 756), istilah Khilafah ini didefinisikan sebagai: pengganti Nabi Saw dalam menjalankan agama dan mengurus dunia, di antaranya seperti Abu Bakar, dan para Khulafaur Rasyidin sepeningganya, dan yang lain seperti mereka. Semoga Allah meridhai mereka. Khilafah merupakan pengganti Nabi Saw. dalam menjaga agama dan mengurus dunia.

Melihat dari urgensi keberadaan Khilafah bagi kaum perempuan dan seluruh umat islam. Maka sejatinya, penegakan kembali Khilafah harus menjadi tujuan para muslimah. Serta, demi memenuhi seruan Allah SWT dalam Surah Annur ayat 55. Semoga cita-cita luhur ini dapat pula menjadi tujuan agung dari kaum perempuan di seluruh dunia.
Wallohua’lam bishshowab

 

Penulis oleh :

Lilis Suryani (Ibu Rumah Tangga)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini