OPINI : Menakar Keterlibatan Jepang Dalam Operasional Pelabuhan Patimban

Sejak awal pembangunannya, Pelabuhan Patimban digadang-gadang akan menjadi solusi bagi pemulihan ekonomi masyarakat Jawa barat khususnya di wilayah Subang dan sekitarnya. Pelabuhan ini juga digadang-gadang dapat menjadi pelabuhan pertama di Indonesia yang mengintegrasikan seluruh mata rantai pasok sekaligus menjadi Pelabuhan baru berskala Internasional yang akan melengkapi Pelabuhan Internasional yang saat ini telah beroperasi.

Patimban juga diharapkan dapat menjadi bagian dari pelayanan transportasi dan logistik di Indonesia yang memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat secara umum serta memberikan multiplayer effect, yang dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar Patimban dan Jawa Barat. Banyak harapan yang disematkan untuk Mega proyek yang dilaksanakan oleh Pemprov Jabar ini. Namun, akankah semua harapan baik itu akan terealisasi ?

Melihat bahwa ternyata aktor dibalik dari Mega proyek ini adalah negara Jepang. Tidak banyak diketahui publik bahwa pemenang tender dari pembangunan pelabuhan Patimban ini diantaranya adalah PT CT Corp Infrastruktur Indonesia (CTII), PT Indika Logistics & Support Services (ILSS), PT U Connectivity Services (UCS) dan PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS).

Sebagaimana dilansir laman media kontan.co.id ( 13/01/21) bahwa Pemerintah Jepang meminta Indonesia membentuk operator bersama antara kedua negara untuk mengelola Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. Jepang meminta konsorsium Jepang-Indonesia segera dibentuk. Adapun menurut, Yukki Nugrahawan Hanafi juru bicara konsorsium sekaligus Wakil Direktur Utama PT Indika Logistics & Support Services (ILSS) menjelaskan bahwa pihaknya saat ini dalam tahap pembicaraan dengan perusahaan asal Jepang. Yukki mengaku, saat ini konsorsium masih dalam tahap merampungkan Joint Venture (JV).

Baca juga  Salah Ketik (Typo) Senjata Utama Tangkal Kritikan Publik
Baca juga  OPINI : Reformasi Birokrasi Demi Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih di Kabupaten Subang

Konsorsium dimaknai dengan pembiayaan bersama suatu proyek atau perusahaan yang dilakukan oleh dua atau lebih bank atau lembaga keuangan. Artinya, dari awal pemerintah tidak mempunyai dana yang cukup untuk membangun infrastruktur yang berupa pelabuhan ini, hal ini terbukti dengan keikutsertaan Jepang dalam pengoperasian Pelabuhan Patimban yang menunjukkan merekalah dibalik mega proyek ini. Bahkan Jepang menjadi negara pertama yang berinvestasi pada proyek pembangunan pelabuhan Patimban ini.

Sungguh disayangkan, pelibatan negara asing pada proyek pemerintah hakikatnya hanya akan meliberalisasi Jabar itu sendiri. Harapan akan terwujudnya pemulihan ekonomi rakyat hingga penyerapan tenaga kerja di Patimban hanya akan menjadi harapan semu yang sulit terealisasi. Sebaliknya, Proyek ini hanya akan mengukuhkan hegemoni kapitalisme di wilayah Jabar. Ada bahaya besar dan jangka panjang yang turut dibawa. Ini akan melengkapi dominasi asing di Jabar. Dengan itu pula, penjajahan gaya baru atas Jabar dan Indonesia akan semakin dalam.

Apalagi, melihat sikap Jepang yang ingin segera dibentuk operator untuk mengelola Pelabuhan Patimban, sudah dapat kita prediksi siapa yang akan lebih dominan dalam mengelola pelabuhan ini nantinya. Seperti yang sudah-sudah, masyarakat hanya akan jadi penonton saja. Jikapun dilibatkan masyarakat disekitar Patimban kemungkinan besar hanya akan menjadi buruh dan pekerja kasar yang tidak terlalu berperan penting terhadap pengelolaan pelabuhan ini. Karena tentu, untuk menduduki posisi bergengsi di perusahaan harus mempunyai background pendidikan yang tinggi. Sedangkan kita lihat, sebagian besar masyarakat di Subang dan sekitarnya adalah masyarakat dengan latar belakang pendidikan yang rendah. Jikapun ada yang berpendidikan tinggi jumlahnya sangat sedikit.

Baca juga  OPINI : Menyoal Lautan Manusia Pada Kampanye di GBK

Karena itulah, sejatinya Mega proyek pelabuhan Patimban ini bukan untuk kepentingan masyarakat melainkan untuk para Investor dan korporasi. Harusnya sejak awal pemerintah menyadari bahwa, saat kekayaan negeri ini sudah dikuasai penanaman modal asing, maka ekonomi kita secara keseluruhan dari hulu sampai hilirnya adalah ekonomi bangsa lain. Ekonomi yang kita kelola tiada lain adalah ekonomi bangsa lain. Sehingga perhitungan PDB misalnya, sejatinya hanya menghitung dari produksinya orang-orang asing yang beroperasi di Indonesia, tidak mencerminkan produksi bangsa sendiri.

Baca juga  Hikmah Anak Belajar di Rumah, Lockdown Covid-19

Karena itulah dalam Syari’at Islam sangat berhati-hati terhadap kerjasama dengan pihak asing, sekalipun di dalam bidang ekonomi. Allah SWT berfirman, “Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin.” (TQS. an-Nisa’ [4]: 141)
Dari firman Allah diatas, Allah mengingatkan kita bahwa kaum Muslim diharamkan memberikan jalan kepada orang kafir untuk bisa mendominasi dan menguasai kaum Mukmin. Misalnya dengan kerjasama ekonomi yang modalnya meminjam kepada negara asing.

Baca juga  Peran Jurnalistik Dalam Memajukan Bangsa

Di dalam konsep Islam, pengelolaan sistem keuangan negara harus berbasis syariah, maka akan diperoleh pemasukan rutin yang sangat besar dalam APBN negara yang berasal dari pos fa’i dan kharaj, pos kepemilikan umum, dan pos zakat. Kebutuhan dana negara yang sangat besar juga dapat ditutup dengan penguasaan (pemagaran oleh negara) atas sebagian harta milik umum, gas alam maupun barang-barang tambang lainnya. Tentu hanya bisa terlaksana, jika penguasa berkemauan kuat untuk mengelola sumberdaya alam secara mandiri (tidak bermental terjajah).

Serta tentu, konsep ekonomi di dalam Islam akan dapat terlaksana jika Islam diterapkan dalam tatanan negara secara menyeluruh, bukan hanya sebagian saja. Dengan solusi yang ada di dalam syari’at Islam inilah sejatinya yang akan membawa negara menjadi negara yang maju dan mandiri, serta bebas dari campur tangan asing. Kesejahteraan rakyatpun akan terwujud secara nyata

Baca juga  Darurat Covid-19, Belajar dari Keluarga

Wallahua’lam bishowab

 

Penulis oleh : Lilis Suryani

Populer

Berita terbaru

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini