Connect with us

Opini

OPINI : Menyoal Lautan Manusia Pada Kampanye di GBK

Published

on

Foto : Feri Rustandi, S.Pd, M.M (Pemerhati masalah sosial dan politik)

Ada pemandangan yang menghebohkan jagat maya termasuk beberapa komentar dari wartawan asing dan menyita perhatian publik, yaitu pada kegiatan kampanye terbuka Calon Presiden nomor urut 02 di Gelora Bung Karno (GBK) pada hari Minggu 07 April kemarin.

Yang disoroti ada bebera hal, yang pertama adalah secara jumlah masa yang cukup banyak bahkan selama pelaksanaan kampanye di beberapa daerah belum sebanyak ini yaitu mencapai 1 juta masa yang hadir bahkan bisa lebih, sebagaimana yang di ucapkan Prabowo pada media.

Yang kedua, yang hadir adalah peserta yang hampir sama karakteristiknya ketika AKSI 212 Tahun 2018, dari mulai konsep acaranya dan memang kebetulan partai pendukung prabowo adalah hampir sama dengan partai yang menjadi penggerak AKSI 212 yaitu Gerindra, PKS dan PAN.

Dan kita tahu, bahwa bahkan kehadiran para ulama dan habaib menjadi ciri kental yang menandakan ada kesamaan antara peserta pada AKSI 212 dengan Kampanye Akbar, diakui atau tidak bahwa peserta Aksi 212 lebih banyak mendukung pasangan Prabowo-Sandi, mereka datang secara sukarela, buka hanya dari daerah Jakarta dan sekitarnya melainkan dari berbagai daerah lainnya, fenomena aksi bersih-bersih setelah acara merupakan tanda hebatnya tanggungjawab dari panitia penyelenggara sehingga kesannya berakhir dengan ending yang baik.

Baca juga  Perpustakaan dan Budaya Literasi

Disisi lain Susilo Bambang Yudoyono berkirim surat dari Singapura terkait memberi masukan dan mengkhawatirkan tentang konsep kampanye yang cenderung tidak inklusif, tidak lazim dan menjurus ke politik identitas, mengingat bahwa pasangan Prabowo-Sandi harus diterima oleh semua kalangan, tetapi  yang terjadi di lapangan menunjukan ada toleransi sekalipun konsep acara lebih dominan kepada peserta yang muslim (diawali dengan sholat shubuh berjamaah, dzikir, sholawat, doa dll) misalnya bahwa perwakilan dari seluruh agama hadir di acara tersebut.

Yang kedua, statement dari Natalius Pigai (Mantan Komisioner Komnas HAM yang  beragama Kristen) yang mengajak untuk hadir, dia menyarankan bagi yang muslim bisa ikut sholat shubuh berjamaah dan non muslim bisa berdoa di rumah masing-masing, Nampak juga beberapa hasil jepretan, bercampurnya peserta muslim dengan non muslim.

Baca juga  OPINI : Reformasi Birokrasi Demi Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih di Kabupaten Subang

Kekuatan menggalang masa dengan jumlah yang cukup banyak membutuhkan sejumlah kekuatan sumber daya yang mumpuni, mulai dari pengamanan, akomodasi, konsumsi dan berbagai pendukung lainnya, tetapi karena kegiatan ini saya lihat kegiatan nurani dari partisan pemilih Paslon 02 sehingga bisa terjadi dengan lancar, sebagaimana Prabowo dalam pidatonya, dia bertanya bahwa yang berkumpul di GBK itu tidak ada bayarannya, siapa yang bayar? bahkan katanya dia sendiri yang di kasih uang oleh peserta.

Saya menilai kegiatan kampanye semacam ini sangat bagus karena di dalamnya ada konten mengedukasi masa pemilih dan menghindari dari money politic. Ketika melihat beberapa data tersebut saya bisa menyimpulkan terkait karakteristik yang sama antara konsep dan kepesertaan antara peggerak AKSI 212 dengan Kampanye Akbar di GBK ini, adalah karena kesamaan penggerak AKSI 212 dengan partai-partai pendukung Paslon 02, terutama yang biasanya mahir dalam mengumpulkan masa pendukung dan pasukan semutnya adalah Partai PKS yang beberapa kegiatan partainya di GBK selalu penuh dan sukses.

Baca juga  Mencari Makanan Halal di Negeri Muslim

Kader-kader PKS sangat militan, berani berkorban harta dan waktu sehingga mudah dan terlebih mendapat tenaga ekstra dari peserta partai pendukung lainnya.
Lantas mungkinkah akan ada gebrakan kreativitas kampanye dari kubu capres petahana ? kita lihat saja sesuai dengan jadwal kampanye yang sudah terjadwal, di kala waktu berjalan cepat menuju 17 April 2019.

Resiko berdemokrasi dalam sistem politik kita, bahwa gerakan-gerakan pengumpulan masa secara massif merupakan sebuah keniscayaan, karena disana manjadi media dan perantara bagaimana politik gagasan di sampaikan, meyakinkan pemilih dan merawat komitmen pemilih agar lebih yakin dan tidak berpindah haluan.

Namun resikonya memerlukan biaya politik yang mahal kecuali militansi dan gerakan sukarela yang menjadi modal besarnya.

 

 

Penulis oleh : Feri Rustandi, S.Pd, M.M (Pemerhati masalah sosial dan politik)