OPINI : Mewaspadai Upaya Liberalisasi Pariwisata

Pemprov Jawa Barat Ridwan Kamil melakukan pembangunan dibeberapa daerah yang ada di Jawa Barat. Diantaranya wisata Situ Bagendit yang berlokasi di desa Bagendit, Banyuresmi, Kabupaten Garut. Tempat tersebut mempunyai wisata air berupa danau yang banyak dikunjungi wisatawan dan lokasinya tidak jauh dari pusat kota Garut.

Untuk mempercantik kawasan tersebut dijadikan tempat destinasi utama Jabar, Ridwan Kamil yang akrab disapa Kang Emil telah menyiapkan anggaran untuk proyek ini sebesar Rp. 104 miliar. Proyek tersebut merupakan tindak lanjut atas masukan Pemerintah Provinsi Jabar kepada Presiden Joko Widodo. Diketahui, Jokowi bersama Menteri PUPR, Basuki Hadimulyono sempat mengadakan kunjungan kerja ke Situ Bagendit pada awal 2019 lalu. (Liputan6.com 05/11/20)

Baca juga  Memahami Islam Secara Benar

Memang, pembangunan yang terus digenjot oleh pemerintah adalah sektor pariwisata, dengan terus melakukan pembangunan di sektor tersebut berharap bisa menarik wisatawan. Ketika banyak wisatawan yang berkunjung maka pemasukan pun meningkat. Sebelum ke arah sana perlu upaya-upaya untuk bisa “mencuri perhatian” wisatawan datang.

Digenjotnya pembangunan sektor pariwisata diklaim untuk kesejahteraan ekonomi rakyat, benarkah? Nyatanya tidak, justru menjadi jalan penjajahan, ditambah lagi budaya luar yang masuk akan menjadikan masyarakat toleran menerima pemikiran asing tersebut.

Liberalisasi dari berbagai bidang seperti ekonomi, alih-alih meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dan mengentaskan kemiskinan, justru yang ada tidak mampu bersaingnya usaha penduduk lokal dengan investor luar ataupun asing yang lebih besar modalnya sehingga terjadi pemiskinan akibat usahanya yang gulung tikar.

Baca juga  OPINI : APBD Kabupaten Subang Adalah Uang Rakyat yang Harus Digunakan dengan Bijak

Dipastikan hanya para pemilik modal yang menikmati keuntungan dan manfaat dari pembangunan kawasan tersebut. Selain liberalisasi gaya hidup, akan muncul pula berbagai bisnis maksiat seperti eksploitasi seksual komersial perempuan dan anak seiring masuknya para wisatawan asing.

Adanya pembangunan proyek tersebut juga akan ada pengalih fungsian lahan yang ada di sekitar kawasan, lahan yang seharusnya berfungsi sebagai lahan resapan air pasti akan dibangun berbagai fasilitas yang mendukung wisata tersebut, seperti pembangunan dermaga kecil dan aula dengan konsep terapung tersedia pula area bersantai di tepi danau serta taman yang dilengkapi fasilitas menarik.

Tidak hanya itu bangunan lainnya seperti penginapan, vila, hotel dan pendukung lainnya akan bermunculan dimanfaatkan oleh para pemilik modal untuk menyuburkan ekonominya. Seperti itulah dalam sistem ekonomi kapitalis yang jadi tolok ukur keberhasilan selalu materi tak peduli dampak dari pembangunan tersebut.

Baca juga  Hal-hal Seru dan Bermanfaat yang Bisa Kita Lakukan di Rumah Saat Masa Karantina

Dalam sistem Islam sektor pariwisata diatur, bukan dijadikan sumber devisa negara. Apalagi untuk memajukan ekonomi rakyat dan mengentaskan kemiskinan. Jika pun ada pembangaunan hanya sebagai bentuk perawatan saja. Tidak lantas jadi suburnya bangunan yang tidak seharusnya berdiri di kawasan tersebut. Menarik perhatian wisatawan hanya sebatas menikmati keindahan alam semata untuk merenungkan betapa Sang Pencipta menciptakan alam ini tuk dijaga dan dirawat.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Penulis oleh : Yuyun Sunimah
(Aktivis Muslimah Karawang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini